Jadwal Imunisasi Anak (Macam-macam Imunisasi)
Ari Titin Mulyaningsih, AM.Keb
Ari Titin Mulyaningsih, AM.Keb
Tidak ada perang sedahsyat perang antara kuman pathogen
dengan system kekebalan tubuh manusia.
Perang dunia I dan II kalah dengan perang antara kuman pathogen dan
system kekebalan tubuh manusia. Korban
perang dunia I dan II lebih sedikit dibandingkan dengan perang melawan penyakit
infeksi. Kita tidak menyadari bahwa
perang melawan penyakit infeksi jauh lebih lebih banyak, karena tersebar
diseluruh dunia dan tidak pada satu wilayah dan cara meninggalnya satu demi satu,
sehingga tidak menarik perhatian dunia (Suharjo,J.B, 2010).
Kesehatan
merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan
dengan bayi dan anak. Mereka merupakan harta yang paling berharga sebagai
titipan Tuhan Yang Maha Esa, juga dikarenakan kondisi tubuhnya yang mudah
sekali terkena penyakit. Oleh karena itu, bayi dan anak merupakan prioritas
pertama yang harus dijaga kesehatannya ( Arief, 2009).
Berdasarkan
laporan WHO tahun 2002, setiap tahun terjadi kematian sebanyak 2,5 juta anak
dibawah lima tahun (balita), disebabkan oleh penyakit yan dapat dicegah dengan
vaksinasi. Radang paru yang disebabkan
oleh pneumokokus menduduki peringkat utama (716.000 kematian), diikuti penyakit
campak (525.000 kematian), rotavirus (diare), Haemophilus influenzae tipe B,
pertusis dan tetanus. Dari jumlah semua
kematian tersebut 76 % kematian balita terjadi di negara-negara berkembang,
khususnya di Afrika dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) (Suharjo,J.B, 2010).
Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992,
“Paradigma Sehat” dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain
pemberantasan penyakit. Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah
upaya pengebalan (imunisasi).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1059/MENKES/SK/IX/2004, salah satu pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Sebagai acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.
Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu penyakit TBC, Difteria, Tetanus, Batuk Rejan (Pertusis), Polio, Campak (Measles, Morbili) dan Hepatitis B, yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) meliputi imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B. Imunisasi lain yang tidak diwajibkan oleh pemerintah tetapi tetap dianjurkan antara lain terhadap penyakit gondongan (mumps), rubella, tifus, radang selaput otak (meningitis), HiB, Hepatitits A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies (Arief, 2009).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1059/MENKES/SK/IX/2004, salah satu pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Sebagai acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.
Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu penyakit TBC, Difteria, Tetanus, Batuk Rejan (Pertusis), Polio, Campak (Measles, Morbili) dan Hepatitis B, yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) meliputi imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B. Imunisasi lain yang tidak diwajibkan oleh pemerintah tetapi tetap dianjurkan antara lain terhadap penyakit gondongan (mumps), rubella, tifus, radang selaput otak (meningitis), HiB, Hepatitits A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies (Arief, 2009).
Penyelenggaraan program imunisasi pemerintah Indonesia
mengacu pada kesepakatan-kesepakatan internasional untuk pencegahan dan
pemberantasan penyakit, antara lain: 1) 1. WHO tahun 1988 dan UNICEF melalui
World Summit for Children pada tahun 1990 tentang ajakan untuk mencapai target
cakupan imunisasi 80-80-80, Eliminasi Tetanus Neonatorum dan Reduksi Campak;
(2. Himbauan UNICEF, WHO dan UNFPA tahun 1999 untuk mencapai target Eliminasi
Tetanus Maternal dan Neonatal (MNTE) pada tahun 2005 di negara berkembang; (3.
Himbauan dari WHO bahwa negara dengan tingkat endemisitas tinggi > 8% pada
tahun 1997 diharapkan telah melaksanakan program imunisasi hepatitis B ke dalam
program imunisasi rutin; (4. WHO/UNICEF/UNFPA tahun 1999 tentang Joint
Statement on the Use of Autodisable Syringe in Immunization Services; (5.
Konvensi Hak Anak: Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak dengan
Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1999 tertanggal 25 Agustus 1990, yang berisi
antara lain tentang hak anak untuk memperoleh kesehatan dan kesejahteraan
dasar; (6. Resolusi Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) tahun 1988
dan tahun 2000 yang diperkuat dengan hasil pertemuan The Eight Technical
Consultative Group Vaccine Preventable Disease in SEAR tahun 2001 untuk mencapai
Eradikasi Polio pada tahun 2004 untuk regional Asia Tenggara dan sertifikasi
bebas polio oleh WHO tahun 2008; (7. The Millenium Development Goal (MDG) pada
tahun 2003 yang meliputi goal 4 : tentang reduce child mortality, goal 5:
tentang improve maternal health, goal 6: tentang combat HIV/AIDS, malaria and
other diseases (yang disertai dukungan teknis dari UNICEF); (8. Resolusi WHA
56.20, 28 Mei 2003 tentang Reducing Global Measles Mortality, mendesak
negara-negara anggota untuk melaksanakan The WHO-UNICEF Strategic Plan for
Measles Mortality Reduction 2001-2005 di negara-negara dengan angka kematian
campak tinggi sebagai bagian EPI; (9. Cape Town Measles Declaration, 17 Oktober
2003, menekankan pentingnya melaksanakan tujuan dari United Nation General Assembly
Special Session(UNGASS) tahun 2002 dan World Health Assembly (WHA) tahun 2003
untuk menurunkan kematian akibat campak menjadi 50 % pada akhir tahun 2005
dibandingkan keadaan pada tahun 1999; dan mencapai target The United Millenium
Development Goal untuk mereduksi kematian campak pada anak usia kurang dari 5
tahun menjadi 2/3 pada tahun 2005 serta mendukung The WHO/UNICEF Global
Strategic Plan for Measles Mortality Reduction and Regional Elimination
2001-2005; (10.Pertemuan The Ninth Technical Consultative Group on Polio
Eradication and Polio Eradication and Vaccine Preventable Diseases in
South-East Asia Region tahun 2003 untuk menyempurnakan proses sertifikasi
eradikasi polio, reduksi kematian akibat campak menjadi 50% dan eliminasi
tetanus neonatal, cakupan DPT3 80% di semua negara dan semua kabupaten,
mengembangkan strategi untuk Safe Injections and Waste Disposal di semua negara
serta memasukkan vaksin hepatitis B di dalam Program Imunisasi di semua negara;
(11.WHO-UNICEF tahun 2003 tentang Joint Statement on Effective Vaccine Store
Management Initiative (Arief, 2009).
Kendala utama untuk keberhasilan
imunisasi bayi dan anak dalam sistem perawatan kesehatan yaitu rendahnya
kesadaran yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan tidak adanya kebutuhan
masyarakat pada imunisasi, jalan masuk ke pelayanan imunisasi tidak adekuat,
melalaikan peluang untuk pemberian vaksin dan sumber-sumber yang adekuat untuk
kesehatan masyarakat dan program pencegahannya (Nelson, 2000).
Banyak anggapan salah tentang
imunisasi yang berkembang dalam masyarakat. Banyak pula orang tua dan kalangan
praktisi tertentu khawatir terhadap resiko dari beberapa vaksin. Adapula media
yang masih mempertanyakan manfaat imunisasi serta membesar-besarkan resiko
beberapa vaksin (Muhammad Ali, 2005).
Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. (Muhammad Ali, 2005). Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu. Demikian juga tentang pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu. Pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan seorang ibu akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi dan anak, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya. Masalah pengertian, pemahaman dan kepatuhan ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan dan pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan (Arief, 2009).
Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. (Muhammad Ali, 2005). Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu. Demikian juga tentang pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu. Pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan seorang ibu akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi dan anak, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya. Masalah pengertian, pemahaman dan kepatuhan ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan dan pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan (Arief, 2009).
Imunisasi
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh
terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh
tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi
terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada
penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan
imunisasi lainnya (Godam, 2008).
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada
anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa,
sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup
hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap
berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak (Godam,
2008).
Tujuan Imunisasi
Tujuan dari diberikannya suatu
imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyaki
yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada
penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu
seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan,
cacar air, tbc, dan lain sebagainya (Godam, 2008).
Manfaat
Imunisasi Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan
terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan ke
adik, kakak dan teman-teman disekitarnya. Imunisasi akan meningkatkan kekebalan
tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan
vaksin tersebut. Anak yang telah diimunisasi bila terinfeksi oleh kuman
tersebut maka tidak akan menularkan ke adik, kakak, atau teman-teman
disekitarnya. Jadi, imunisasi selain bermanfaat untuk diri sendiri juga
bermanfaat untuk mencegah penyebaran ke adik, kakak dan anak-anak lain
disekitarnya (Dr. Soedjatmiko, SpA(K),
MSi, 2009).
Kerugian
Tidak Imunisasi
Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya
tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman
berbahaya yang masuk cukup banyak maka tubuhnya tidak mampu melawan kuman
tersebut sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal (Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, 2009).
Anak yang tidak
diimunisasi akan menyebarkan kuman-kuman tersebut ke adik, kakak dan
teman lain disekitarnya sehingga dapat menimbulkan wabah yang menyebar
kemana-mana menyebabkan cacat atau kematian lebih banyak. Oleh karena itu, bila
orangtua tidak mau anaknya diimunisasi berarti bisa membahayakan keselamatan
anaknya dan anak-anak lain disekitarnya, karena mudah tertular penyakit
berbahaya yang dapat menimbulkan sakit berat, cacat atau kematian (Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, 2009).
Cara Pemberian Imunisasi
Teknik atau cara
pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri
penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum
/ telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan
terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membentuk antibodi. Antibodi
itu umumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk
melawan penyakit yang mencoba menyerang (Godam, 2008).
Tabel Cara Dan lokasi Penyuntikan
(Sumber : Depkes RI, 2009)
Vaksin
|
BCG
|
DPT/HB
|
Campak
|
Polio
|
HB PID
|
Tempat
Penyuntikan
|
Lengan kanan
atas luar
|
Paha tengah
bagian luar
|
Lengan kiri atas
|
Mulut
|
Paha sebelah
kanan bagian tengah luar
|
Cara Penyuntikan
|
Intrakutan
|
Intramuskuler
|
Sub Kutan
|
Diteteskan
|
Intramuskuler
|
Dosis
|
0.05 cc
|
0.5 cc
|
0.5 cc
|
2 Tetes
|
0.5 cc
|
Imunisasi BCG
Vaksin BCG merupakan vaksin
hidup yang memberikan perlindungan terhadap penyakit TB. Vaksin TB tidak mencegah infeksi TB, tetapi
mencegah infeksi TB berat (meningitis TB dan TB milier), yang sangat mengancam
nyawa. Vaksin BCG dapat memakan waktu
6-12 minggu untuk menghasilkan efek (perlindungan) kekebalannya. Vaksinasi BCG memberikan proteksi yang
bervariasi antara 50%-80% terhadap tuberkulosis
(Suharjo,J.B, 2010).
Vaksinasi BCG memberikan
kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1
kali sebelum anak berumur 2 bulan, vaksin ini mengandung bakteri bacillus
calmette-guerrin hidup yang dilemahkan sebanyak 50.000-1.000.000
partikel/dosis. Biasanya reaksi yang ditimbulkan oleh imunisasi ini adalah
setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yang akan
pecah. Namun jangan kuatir, sebab hal
ini merupakan reaksi yang normal. Namun jika bisulnya dan timbul kelenjar pada
ketiak atau lipatan paha, sebaiknya anak segera dibawa kembali ke dokter.
Sementara waktu untuk mengatasi pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan
cairan antiseptic (Conectique, 2008).
Ketahanan
terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan virus tubercle
bacii yang hidup didalam darah. Itulah mengapa agar memiliki kekebalan aktif,
dimasukkan jenis basil tak berbahaya ini ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus
Celmette-Guerin). Di Indonesia,
vaksin BCG merupakan vaksin yang diwajibkan pemerintah. Vaksin ini diberikan pada bayi yang baru
lahir sebaiknya diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Vaksin BCG juga diberikan pada anak usia 1-15
tahun yang belum divaksinasi (tidak ada catatan atau tidak skar), imigran,
komunitas travelling, dan pekerja di bidang kesehatan yang belum divaksinasi
(tidak ada catatan atau skar). Setelah
vaksinasi, papul (bintik) merah yang kecil timbul dalam waktu 1-3 minggu. Papul ini akan semakin lunak, hancur, dan
menimbulkan parut. Luka ini mungkin
memakan waktu sampai 3 bulan untuk sembuh.
Biarkan tempat vaksinasi sembuh sendiri dan pastikan agar tetap bersih
dan kering. Jangan menggunakan krim atau
salep, plester yang melekat, band aid, kapas atau kain langsung pada tempat
vaksinasi. Vaksin BCG tidak terlepas
memberikan efek samping, maka perlu diketahui bahwa vaksin ini dianjurkan pada
seseorang yang mengalami penurunan status kekebalan tubuh dan uji tuberkulin
positif (lihat boks). Vaksin BCG dapat
diberikan bersamaan dengan vaksin lain, misalnya Dtap/IPV/Hib. Saat memberikan vaksin BCG, imunisasi primer
lain juga diberikan. Lengan yang
digunakan untuk imunisasi BCG jangan digunakan untuk imunisasi lain selama
minimal 3 bulan, agar tidak terjadi limphadenitis (Suharjo,J.B, 2010).
Imunisasi Hepatitis B
Di Indonesia
vaksinasi hepatitis B merupakan
vaksinasi wajib bagi bayi dan anak karena pola penularannya bersifat vertikal.
Imunisasi ini merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya VHB, yaitu
virus penyebab penyakit hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis atau
pengerutan hati, bahkan lebih buruk lagi mengakibatkan kanker hati (Vina,
2008).
Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah penyakit yang
disebabkan virus hepatitis B yang berakibat pada hati. Penyakit itu menular
melalui darah atau cairan tubuh yang lain dari orang yang terinfeksi. Vaksin
ini diberikan 3 kali hingga usia 3-6 bulan (Conectique, 2008).
Imunisasi Polio
Imunisasi
polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. Penyakit akibat
virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan (Vina, 2008).
Vaksin
oral polio hidup adalah vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus
poliomyelitis tipe 1,2 dan 3 (Starin Sabin) yang sudah dilemahkan,
dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa
(Vademecum Bio Farma Jan 2002, Depkes RI, 2005).
Imunisasi polio memberikan kekebalan terhadap
penyakit polio. Penyakit ini disebabkan virus, menyebar melalui tinja/kotoran
orang yang terinfeksi. Anak yang terkena polio dapat menjadi lumpuh layuh.
Vaksin polio ada dua jenis, yakni vaccine polio inactivated (IPV) dan vaccine
polio oral (OPV). Vaksin ini diberikan pada bayi baru lahir,
2,4,6,18 bulan dan 5 tahun (Conectique, 2008)
Imunisasi DTP
Dengan
pemberian imunisasi DTP, diharapkan penyakit difteri, tetanus, dan pertusis,
menyingkir jauh dari tubuh si kecil (Vina, 2008).
Imunisasi
DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis
dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang
menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau
fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah
inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang
menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama
beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak
dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi
serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa
menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak
yang berumur kurang dari 7 tahun.
Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan
pada otot lengan atau paha (Medicastore.com).
Imunisasi
DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3
bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.
Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah
(5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi
alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT
(Medicastore.com).
.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster
vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya
memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan
booster).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun (Medicastore.com).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun (Medicastore.com).
Jika
anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi
DPT bisa ditunda sampai anak sehat.
Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya
abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau
kejangnya bisa dikendalikan (Medicastore.com).
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin yang melindungi
terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri disebabkan bakteri yang menyerang
tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Penyakit
ini mudah menular melalui batuk atau bersin. Pertusis (batuk rejan) adalah
infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang
menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis juga dapat menimbulkan
komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah
infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Vaksin
ini diberikan 5 kali pada usia 2,4,6,18 bulan dan 5 tahun (Conectique, 2008).
Imunisasi Campak
Sebenarnya
bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya
usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan
lewat pemberian vaksin campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus Morbili (Vina,
2008).
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat
anak berumur 9 bulan dan vaksin kedua 6 tahun. Reaksi imunisasi Campak biasanya
timbul seminggu kemudian berupa demam, diare, atau keluar bintik-bintik merah
di kulit. Namun efek ini tergolong ringan sekali sehingga tak perlu ada yang
dikhawatirkan sebab biasanya akan sembuh sendiri (Conectique, 2008).
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang
dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml)
mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70 dan
tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu erytromicin (Vademecum
Bio Farma Jan 2002, (Depkes RI, 2005).)
Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh
haemophilus influenza tipe b yang disebabkan oleh bakteri. Organisme ini bisa
menyebabkan meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang
paru) dan infeksi tenggorokan. Vaksin ini diberikan 4 kali pada usia 2,4,6 dan
15-18 bulan (Conectique, 2008).
Pneumokokus (PCV)
Imunisasi ini untuk mencegah
penyakit paru-paru dan radang otak. Imunisasi ini juga melindungi anak terhadap
bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga dan radang tenggorokan. Bakteri
ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan
radang paru (Conectique, 2008).
Vaksin Influenza
Dapat diberikan setahun
sekali sejak umur 6 bulan. Vaksin ini dapat terus diberikan hingga dewasa
(Conectique, 2008).
MMR
MMR merupakan pengulangan vaksin campak, ditambah dengan Gondongan dan Rubela (Campak Jerman). Diberikan saat anak usia 15 bulan dan diulang saat anak berusia 6 tahun. Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu setelah diberikan, berupa bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat penghilang nyeri. Patut diperhatikan, jangan langsung membawa pulang anak setelah ia diimunisasi MMR. Tunggulah hingga 15 menit, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani (Conectique, 2008).
MMR merupakan pengulangan vaksin campak, ditambah dengan Gondongan dan Rubela (Campak Jerman). Diberikan saat anak usia 15 bulan dan diulang saat anak berusia 6 tahun. Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu setelah diberikan, berupa bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat penghilang nyeri. Patut diperhatikan, jangan langsung membawa pulang anak setelah ia diimunisasi MMR. Tunggulah hingga 15 menit, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani (Conectique, 2008).
Imunisasi varisella
Berfungsi memberikan perlindungan terhadap cacar
air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, komplikasinya
infeksi kulit dan bisa infeksi di otak. Vaksin ini diberikan pada anak usia
1-13 tahun 1 kali dan lebih dari 13 tahun 2 kali (Conectique, 2008).Imunisasi untuk mencegah Typus. Imunisasi ini dapat diulang setiap 3 tahun (Conectique, 2008).
Hepatitis A
Imunisasi inidapat diberikan pada
anak usia di atas 2 tahun (Conectique, 2008).
Sumber :
Dr.
J.B. Suharjo B.Cahyono, Sp.PD,dkk. (2010). ”Vaksinasi Cara Ampuh Cegah
Penyakit Infeksi”. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta.
Departemen
Kesehatan RI Direktorat Jenderal PPM & PLP. (2000). Kurikulum dan Modul Pelatihan Kewaspadaan
Universal Edisi 2. Jakarta.
Prof. Dr. Ir.
Syarifuddin Rauf, Sp.A(K), “Imunisasi”, Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUH –RSU Dr WahidinSudirohusodo.
Departemen
Kesehatan RI Direktorat Jenderal PP & PL. (2008). “Imunisasi”. Jakarta.
Dr.Soedjatmiko,
SpA(K). (2009). “Imunisasi Penting Mencegah Penyakit Berbahaya”. Sekretaris
Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Diakses 6
Maret 2010 : http://www1.surya.co.id/v2/?p=1922
Tidak ada komentar:
Posting Komentar