Sabtu, 21 Agustus 2010

Hepatitis B Virus






Imunisasi Hepatitis B


Definisi
Definisi Hepatitis B
Hepatitis adalah peradangan hati karena berbagai sebab. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis" (Wikipedia, 2010).
Hepatitis adalah Suatu peradangan pada hati yang terjadi karena toksin seperti; kimia atau obat atau agen penyakit infeksi (Asuhan keperawatan pada anak, 2002; 131). Hepatitis adalah keadaan radang/cedera pada hati, sebagai reaksi terhadap virus, obat atau alkohol (Patofisiologi untuk keperawatan, 2000;145).
Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat pula hepatitis kronik ( hepatitis B,C ) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati ( hepatitis B dan C ) (infeksi.com).
Hepatitis B adalah salah satu dari tujuh tipe virus hepatitis (A, B, C, Delta, E, F, G). Hepatitis karena virus adalah penyakit yang serius karena merusak sel-sel hati. Hepatitis B termasuk Penyakit Menular Seksual (PMS) karena hubungan seksual merupakan salah satu cara penularan antar-manusia.(sumber: Unit Transfusi Darah PMI Cabang Kota Yogyakarta).
Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, bersifat akut, terutama ditularkan secara paranteral tetapi juga bisa secara oral, melalui hubungan yang erat anatara penderita dengan orang lain, dan dari ibu ke bayinya. Gejala prodormalnya berupa demam, malaise, anoreksia, mual dan muntah yang hilang seiring dengan timbulnya ikterus klinis, angioedema, lesi kulit seperti urtikaria dan arthritis. Setelah 3-4 bulan sebagian besar penderita sembuh sempurna, tetapi beberapa diantaranya dapat menjadi carier atau berlanjut menjadi penyakit kronis (Kamus Kedokteran, Dr. Difa Danis).

Ada lima virus yang diketahui mempengaruhi hati dan menyebabkan hepatitis: HAV, HBV, HCV, virus hepatis delta (HDV, yang hanya menyebabkan masalah pada orang yang terinfeksi HBV), dan virus hepatitis E (HEV). Virus hepatitis G (HGV) pada awal diperkirakan dapat menyebabkan kerusakan pada hati, tetapi ternyata diketahui sebagai virus yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan virus ini sekarang diberi nama baru sebagai virus GB-C (GBV-C) (Spiritia, 2005).

Klasifikasi Hepatitis
(1). Hepatitis A

Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). HAV menular melalui makanan/ minuman yang tercemar kotoran (tinja) dari seseorang yang terinfeksi masuk ke mulut orang lain. Hepatitis A adalah bentuk hepatitis yang akut, berarti tidak menyebabkan infeksi kronis. (Spiritia, 2005).

(2). Hepatitis B
Virus Hepatitis B(HBV) merupakan virus DNA hepatotropik yang termasuk famili hepadnavirus berukuran 42nm dan hanya menyebabkan hepatitis pada manusia dan primata. HBV memiliki antigen permukaan atau Hepatitis B surface antigen (HbsAg) dan nukleokapsid pada bagian sebelah dalam memiliki antigen inti atau Hepatitis core antigen (HbcAg) yang bermakna dalam penentuan perkembangan penyakit menjadi kronis atau degenerasi keganasan. Pada bagian dalam ini terdapat genom virus berupa reverse/DNA transcriptase dan antigen ketiga (HbeAg) (Meida Erimarisya, FKUNPAD RSHS, 2007).

(3). Hepatitis C
Hepatitis C dikenal pula sebagai hepatitis non-A non-B yang penularannya dihubungkan dengan transfusi. Selain itu hepatitis C juga dapat ditularkan melalui kontak seksual serta perinatal.

(4). Hepatitis D
Pada anak dengan gagal hati akut perlu dipertimbangkan terjadinya infeksi HDV. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan IgM anti-HDV yang pada ko-infeksi HBV muncul pada minggu ke 2-4, sedangkan pada superinfeksi ditemukan setelah minggu ke-10 (Meida Erimarisya, FKUNPAD RSHS, 2007).

(5). Hepatitis E
Penularan terjadi melalui rute fekal-oral sehingga banyak ditemukan pada populasi dengan sanitasi dan higiene yang buruk. Penyakit yang ditimbulkan serupa dengan hepatitis A namun cenderung lebih berat dan lebih banyak menyerang kelompok usia 15- 34 tahun (Meida Erimarisya, FKUNPAD RSHS, 2007).


Penularan Hepatitis B

Infeksi virus Heptitis Bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur. Pola penularan virus dapat terjadi melalui dua cara, yakni :
(1). Penularan vertikal
Cara penularan vertical terjadi dari ibu yang mengidap virus hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan, yakni pada saat persalinan atau segera setelah persalinan. Di Indonesia, cara penularan ini yang paling banyak terjadi. Jika ibu penderita hepatitis kronis aktif (ditandai dengan pemeriksaan laboratorium HbsAg dan HbeAg positif), maka 70% - 90% bayi akan terinfeksi dan 90% bayi yang terinfeksi tersebut akan menderita Hepatitis B kronis. Itulah sebabnya mengapa sering ditemukan pasien dengan sirosis hati atau kanker hati di usia muda (dr. J.B.Suharjo B.Cahyono, Sp.PD,dkk, 2010).
Hepatitis B menular secara seksual dan vertikal (parenteral) melalui produk darah yang terkontaminasi atau penggunaan obat intravena dan ibu penderita/ carrier hepatitis B kronik kepada bayinya. Penularan juga dapat terjadi bila kulit atau mukosa terpapar darah atau cairan/duh tubuh (semen, saliva) yang terkontaminasi HBV. Bayi yang lahir dari ibu dengan HbeAg positif memiliki risiko terbesar (70-90%) untuk tertular dibandingkan ibu dengan HbsAG positif dan HbeAG negatif (10-67%). Infeksi akut pada ibu selama trimester ketiga sangat berisiko untuk terjadinya penularan pada masa perinatal, HbsAg dapat ditemukan pada air susu ibu(ASI) diduga karena tertelannya darah dari puting susu ibu yang luka. Faktor risiko penularan hepatitis B apda anak dikelompokkan berdasarkan usia :
(a). Usia < 11 tahun Ibu HbsAG positif (terutama usia 0-5 tahun)
(b). Anak imigran dari daerah endemis
(c). Anak yang diadopsi dari daerah endemis
(d). Kontak dengan pengasuh carrier HBV
(e). Usia > 11 tahun : Imigran dari daerah endemis
(f). Remaja yang aktif secara seksual terutama dengan pasangan berganti- ganti
(g). Kontak erat dengan carries HBV
(h). Pengguna obat/ narkotika intravena
(i). Pria homoseksual
(j). Tahanan
(k). Pekerja dengan risiko terpapar (petugas kesehatan)
(l). Pendatang.wisatawan di daerah endemis
(Meida Erimarisya, FKUNPAD RSHS, 2007).
(2). Penularan Horizontal
Dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfuse darah, penggunaan pisau cukur, dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan penderita dewasa.

Gejala dan Tanda Hepatitis B

Gejala dan tanda infeksi VHB tergantung pada perjalann klinisnya, apakah dalam keadaan akut,kronis, atau sudah dalam keadaan sirosis atau kanker hati. Mereka yang terinfeksi VHB akut sebanyak 90% adalah pada anak-anak dan 70% pada orang dewasa tidak menampakkan gejala sama sekali. Hanya sepertiga dari yang terinfeksi memperlihatkan keluhan, terutama mata kuning. Pada keadaan akut, keluhan yang dirasakan pasien adalah berupa lemas, mual, mata kuning, demam, kencing seperti air teh. Sementara pada hepatitis B kronis, biasanya pasien hanya mengeluh mudah lelah dan lesu. Sementara pada keadaan sirosis, pasien mengeluh perut bengkak (rongga perut terisi air), mata kuning, lesu, dsb. Sebagaimana dialami oleh pasien di atas. Bila hepatitis B kronis telah menjadi kanker hati, keluhan yang dirasakan pasien adalah perut sebelah kanan atas membesar dan mengeras. Jika demikian keadaannya, biasanya pasien yang menderita kanker hati tidak akan bertahan sampai satu tahun (dr. J.B.Suharjo B.Cahyono, Sp.PD,dkk, 2010).

1). Gejala Hepatitis B mirip gejala flu. Kadang-kadang sangat ringan bahkan tida menimbulkan gejala sama sekali. Hanya sedikit orang yang terinfeksi menunjukkan semua gejala. Karena alasan ini banyak kasus Hepatitis B yang tidak terdiagnosis dan terobati. Gejala utama dari Hepatitis B adalah sebagai berikut:
2). Mudah lelah
3). Demam ringan
4). Nyeri otot dan persendian
5). Mual dan muntah
6). Sakit kepala
7). Kehilangan nafsu makan
8). Nyeri perut kanan atas
9). Diare
10).Warna tinja seperti dempul
11).Warna urin seperti the
12).Warna kulit dan sklera mata kuning (jaundice)
13).Penurunan berat badan 2.5 - 5 kg

Adapun tes diagnostic yang harus dilakukan diantaranya adalah :


(1). ASR (SGOT) / ALT (SGPT)
Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun. SGOT/SGPT merupakan enzim – enzim intra seluler yang terutama berada dijantung, hati dan jaringan skelet, terlepas dari jaringan yang rusak, meningkat pada kerusakan sel hati (JB Suharjo, B Cahyono, 2006).
Tingkat enzim hati – yang disebut SGPT dan SGOT (atau ALT dan AST di daerah lain) – diukur dengan tes enzim hati, yang sering disebut sebagai tes fungsi hati. Tingkat enzim hati yang tinggi menunjukkan bahwa hati tidak berfungsi semestinya, dan mungkin ada risiko kerusakan permanen pada hati. Selama infeksi hepatitis B akut, tingkat enzim hati dapat tinggi untuk sementara, tetapi hal ini jarang menimbulkan masalah jangka panjang pada hati. Pada hepatitis B kronis, enzim ini, terutama SGPT, dapat menjadi lebih tinggi, secara berkala atau terus-menerus, dan hal ini menunjukkan risiko kerusakan hati jangka panjang ( Spiritia, 2005).
((2). Darah Lengkap (DL)
SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
(3). Leukopenia
Trombositopenia mungkin ada (splenomegali)
(4). Diferensia Darah Lengkap
Leukositosis, monositosis, limfosit, atipikal dan sel plasma.
(5). Alkali phosfatase
Agaknya meningkat (kecuali ada kolestasis berat)
(6). Feses
Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
(7). Albumin Serum
Menurn, hal ini disebabkan karena sebagian besar protein serum disintesis oleh hati dan karena itu kadarnya menurun pada berbagai gangguan hati.
(8). Gula Darah
Hiperglikemia transien / hipeglikemia (gangguan fungsi hati).
(9). Anti HAVIgM
Positif pada tipe A
(10). HbsAG
Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A)
(11). Masa Protrombin
Mungkin memanjang (disfungsi hati), akibat kerusakan sel hati atau berkurang. Meningkat absorbsi vitamin K yang penting untuk sintesis protombin.
(12). Bilirubin serum
Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk, mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler)
(13). Tes Eksresi BSP (Bromsulfoptalein)
Kadar darah meningkat. BPS dibersihkan dari darah, disimpan dan dikonyugasi dan diekskresi. Adanya gangguan dalam satu proses ini menyebabkan kenaikan retensi BSP.
(14). Biopsi Hati
Menujukkan diagnosis dan luas nekrosis.
Sayangnya, tes darah tidak dapat memberikan semua informasi tentang keadaan hati seseorang. Mengukur viral load HBV, tingkat enzim hati, dan AFP dalam darah tidak dapat menentukan apakah ada kerusakan, dan bila ada, tingkat kerusakan. Untuk ini, dibutuhkan biopsi hati. Biopsi hati hanya diusulkan untuk pasien dengan viral load HBV yang tinggi (di atas 100.000 kopi) dan tingkat enzim hati yang tinggi (Spiritia, 2005). Biopsi hati biasanya dilakukan di klinik rawat jalan di rumah sakit. Ultrasound kadang kala dipakai untuk menentukan daerah terbaik untuk biopsi. Kita harus telentang, sedikit ke kiri. Daerah kulit yang dipilih dibersihkan.. Kemudian, daerah tersebut disuntik untuk mematikan rasa pada kulit dan jaringan di bawahnya. Sebuah jarum khusus yang tipis ditusuk melalui kulit. Pada saat ini, dokter akan minta kita mengambil napas masuk, keluar dan tahan untuk kurang lebih lima detik. Jarum dimasukkan pada hati dan dikeluarkan lagi. Tindakan ini hanya membutuhkan satu-dua detik. Sepotong jaringan hati yang kecil dicabut dengan jarumnya, dan diperiksa dalam laboratorium. Proses ini dari awal hanya membutuhkan 15-20 menit. Tetapi setelah itu,kita harus terbaring secara tenang selama beberapa jam untuk menghindari kemungkinan akan perdarahan di dalam. Mungkin akan dirasakan sedikit nyeri pada dada atau bahu, tetapi ini bersifat sementara. Orang bereaksi secara berbeda-beda pada biopsi – beberapa orang merasa sakit, sementara kebanyakan merasa heran karena mereka hampir tidak mengalami rasa sakit. Sebagian besar orang menggambarkan proses sebagai membosankan, karena harus terbaring begitu lama setelah dilakukan tindakan. Hasil biopsi biasanya didapat dalam satu minggu, kemudian hasilnya baru akan dijelaskan oleh dokter (Spiritia, 2005).
(15). Skan Hati
Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin hati.
(16). Urinalisa
Peningkatan kadar bilirubin. Gangguan eksresi bilirubin mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonyugasi. Karena bilirubin terkonyugasi larut dalam air, ia disekresi dalam urin menimbulkan bilirubinuria.
(www.ruslanpinrang.blogspot.com)


1 komentar: