Senin, 26 Desember 2011

Impetigo (Penyakit Kulit Menular)

Impetigo (Penyakit Kulit Menular) 


Impetigo adalah satu penyakit menular. Impetigo adalah infeksi kulit yang menyebabkan terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil berisi nanah (pustula).
Impetigo paling sering menyerang anak-anak, terutama yang kebersihan badannya kurang dan bisa muncul di bagian tubuh manapun, tetapi paling sering ditemukan di wajah, lengan dan tungkai. Pada dewasa, impetigo bisa terjadi setelah penyakit kulit lainnya. Impetigo bisa juga terjadi setelah suatu infeksi saluran pernapasan atas (misalnya flu atau infeksi virus lainnya). (Wikipedia).

Impetigo adalah salah satu contoh pioderma, yang menyerang lapisan epidermis kulit (Djuanda, 56:2005). Impetigo biasanya juga mengikuti trauma superficial dengan robekan kulit dan paling sering merupakan penyakit penyerta (secondary infection) dari Pediculosis, Skabies, Infeksi jamur, dan pada insect bites (Beheshti, 2:2007).
 
Impetigo krustosa juga dikenal sebagai impetigo kontangiosa, impetigo vulgaris, atau impetigo Tillbury Fox. Impetigo bulosa juga dikenal sebagai impetigo vesikulo-bulosa atau cacar monyet (Djuanda, 56-57:2005).
Impetigo disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Group A Beta Hemolitik Streptococcus (Streptococcus pyogenes). Staphylococcus merupakan pathogen primer pada impetigo bulosa dan ecthyma (Beheshti, 2:2007).
Staphylococcus merupakan bakteri sel gram positif dengan ukuran 1 µm, berbentuk bulat, biasanya tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur, kokus tunggal, berpasangan, tetrad, dan berbentuk rantai juga bisa didapatkan. Staphylococcus dapat menyebabkan penyakit berkat kemampuannya mengadakan pembelahan dan menyebar luas ke dalam jaringan dan melalui produksi beberapa bahan ekstraseluler. Beberapa dari bahan tersebut adalah enzim dan yang lain berupa toksin meskipun fungsinya adalah sebagai enzim. Staphylococcus dapat menghasilkan katalase, koagulase, hyaluronidase, eksotoksin, lekosidin, toksin eksfoliatif, toksik sindrom syok toksik, dan enterotoksin. (Brooks, 317:2005).
Streptococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat, yang mempunyai karakteristik dapat berbentuk pasangan atau rantai selama pertumbuhannya. Lebih dari 20 produk ekstraseluler yang antigenic termasuk dalam grup A, (Streptococcus pyogenes) diantaranya adalah Streptokinase, streptodornase, hyaluronidase, eksotoksin pirogenik, disphosphopyridine nucleotidase, dan hemolisin (Brooks, 332:2005).

Waktu terkena penyakit ini sampai tampak gejalanya memakan waktu 1 sampai 3 hari.
Bintik-bintik merah yang kecil menjadi lepuh yang berisi nanah dan berkeropeng; biasanya pada muka, tangan atau kepala. Impetigo berawal sebagai luka terbuka yang menimbulkan gatal, kemudian melepuh, mengeluarkan isi lepuhannya lalu mengering dan akhirnya membentuk keropeng.
Impetigo merupakan penyakit menular, yang ditularkan melalui cairan yang berasal dari lepuhannya.
Besarnya lepuhan bervariasi, mulai dari seukuran kacang polong sampai seukuran cincin yang besar. Lepuhan ini berisi carian kekuningan disertai rasa gatal.
Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar daerah yang terinfeksi.

Pencegahan :
Mencuci tangan dengan teliti. Infeksi bisa dicegah dengan memelihara kebersihan dan kesehatan badan. Goresan ringan atau luka lecet sebaiknya dicuci bersih dengan sabun dan air, bila perlu olesi dengan zat anti-bakteri.
Untuk mencegah penularan:
  1. Hindari kontak dengan cairan yang berasal dari lepuhan di kulit
  2. Hindari pemakaian bersama handuk, pisau cukur atau pakaian dengan penderita
  3. Selalu mencuci tangan setelah menangani lesi kulit.
Seorang anak laki-laki umur 4 tahun,  datang dengan ibunya dengan keluhan koreng di lengan atas dan terasa gatal setiap waktu. Keluhan dirasakan sudah 4 hari yang lalu tanpa disertai dengan demam. Mulanya tampak bercak kemerahan, kemudian lama – lama bercak kemerahan tersebut menonjol dan berisi cairan didalamnya (berlepuh), kemudian pecah dan kemudian mengering dan mengeras di atasnya. Belum pernah dilakukan pengobatan sebelumnya. Tidak pernah menderita sakit serupa sebelumya. Pasien tidak punya riwayat alergi obat maupun makanan, dan pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan alergi sebelumnya. Tidak ada anggota keluarga menderita sakit serupa
Pemeriksaan fisik  keadaan umum dan tanda vital baik. Pada pemeriksaan UKK  terdapat lesi di daerah lengan atas (dekat ketiak) berupa lesi eritematosa, bentuk bulat, dasar eritem, batas tegas, terutup krusta putih diatasnya. Terdapat vesikel dan bula disekitar lesi.
 
Pasien mendapat terapi antibiotik berupa kotrimoksasol tablet tiga kali setengah tablet perhari. Antibiotik topical berupa asam fusidat cream dioleskan dua kali sehari dan antihistamin berupa CTM tiga kali setengah tablet. Ibu pasien diedukasi untuk mencuci pakaian, handuk dan sprei dari anak dengan impetigo terpisah dari yang lainnya. Cuci dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari atau pengering yang panas. Selain itu juga memandikan anak secara teratur dengan air dan sabun, memotong kuku anak agar tetap pendek serta membiasakan cuci tangan memakai sabun.
 
Pada lesi non bulosa kebanyakan lesi disebabkan oleh S.aureus dan GABHS, hasil dari kultur dan frekuensi relatif dari setiap agen patogen dapat memliki variasi perbedaan tergantung dari daerah geografis, iklim, dan usia dari host. S. aureus dapat dikultur dari lesi impetigo pada anak-anak segala usia,kecuali untuk daerah endemis, GABHS jarang terjadi pada anak usia <2th tetapi sering ditemukan pada usia anak2 TK. Sedangkan pada lesi bulosa, impetigo bulosa sering disebabkan oleh S aureus grup 2 dengan menghasilkan toxin eksfoliatif A dan B yang akan menyebabkan adhesi sel pada lapisan superfisial dari epidermis, memecah lapisan stratum granulare dan membentuk blister.
              Penatalaksanaan dari impetigo meliputi perawatan luka baik secara topikal maupun pemberian antibiotik sistemik. Tujuan pengobatan impetigo adalah menghilangkan rasa tidak nyaman dan memperbaiki kosmetik dari lesi impetigo, mencegah penyebaran infeksi ke orang lain dan mencegah kekambuhan. Menjaga kebersihan dan menghilangkan faktor predisposisi.

Pengobatan harus efektif, tidak mahal dan memiliki sedikit efek samping. Antibiotik topikal (lokal) menguntungkan karena hanya diberikan pada kulit yang terinfeksi sehingga meminimalkan efek samping. Kadangkala antibiotik topikal dapat menyebabkan reaksi sensitifitas pada kulit orang-orang tertentu. Untuk perawatan luka, bersihkan lesi dengan menggunakan larutan antiseptik. Bila lesi basah, lesi bisa dikompres dengan larutan permanganas kalikus 1/10.000 atau dengan antiseptik lainnya. Jika bula besar dan banyak, sebaiknya dipecahkan dan dibersihkan dengan antiseptic dan diberi salep antibiotic (kloramphenicol 2% atau eritromisin 3%). Jika ada gejala konstitusi berupa demam sebaiknya diberikan antibitik sistemik seperti penisilin 3-50mg/kgbb atau antibiotic lain yang sensitive.
Guideline dari Infectious Diseases Society of America (IDSA) tentang diagnosis dan management infeksi kulit dan jaringan lunak  tahun 2005 merekomendasikan pengobatan topical untuk lesi yang terbatas dan antibiotic oral ketika penyakit lebih berat.  Terapi antibiotik topikal dan oral merupakan pilihan terapi yang sesuai untuk impetigo. Meskipun merupakan terapi pilihan yang pada tahun-tahun lalu, tetapi untuk saat ini Penicilin sudah tidak sesuai lagi Karena sebagian besar S. aureus pada umumnya menghasilkan beta laktamase yang dapat menginaktivasi baik penicillin maupun ampicilin. Eritromicin, cephalexin, dicloxacillin, danmupirocin dan asam fusidat topical efektif melawan strain local staphylococcus .
Terapi pilihan untuk impetigo adalah mupirocin, asam fusidat, atau tetrasiklin  cream atau zalf, eritromicin oral (250 mg empat kali sehari pada dewasa,  pada anak 40 mg/kgbb/hari dibagi menjadi 4 dosis) atau dicloxacilin (250 mg empat kali sehari pada dewasa,  pada anak 12 mg/kgbb/hari dibagi menjadi 4 dosis). Terapi oral alternative adalah cephalexin (250 mg empat kali sehari atau 500 mg dua kali sehari pada dewasa,  pada anak 25 mg/kgbb/hari dibagi menjadi 4 dosis)antibiotic tersebut tidak sesuai untuk S.Aureus yang resisten methicilin. Durasi pengobatan adalah 10 hari bail untuk antibiotic oral maupun topical.
Guideline ini merekomendasikan pengobatan topikal untuk penyakit lokal, karena sama keefektifannya dan lebih sedikit efek sampingnya diabnding terapi oral. Meskipun RCT tidak membedakan terapi optimal untuk penyakit yang lebih ekstensif , kami menyarankan terapi oral untuk penyakit ekstensif atau pada dewasa, penyakit melibatkan tangan dan wajah yang berkontaminasi minimal dengan mata. Debridement krusta pada lesi dengan menggosok dengan lembut pada umumnya direkomendasikan.
Pada pasien ini mendapat terapi antihistamin berupa CTM untuk mengatasi pruritusnya. Pasien juga mendapat antibiotik topikal dan sistemik yaitu asam fusidat cream dan kotrimoksasol tablet. Pemberian antibiotic topikal sudah tepat, tetapi pemberian antibiotik sistemik pada pasien ini kurang tepat karena lesi yang muncul hanya satu dan tidak ada gejala sistemik serta mengurangi efek samping obat..
Impetigo biasanya sembuh tanpa penyulit dalam dua minggu walaupun tidak diobati. Komplikasi berupa radang ginjal pasca infeksi streptokokus terjadi pada 1-5% pasien terutama usia 2-6 tahun dan hal ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan antibiotik. Gejala berupa bengkak dan tekanan darah tinggi, pada sepertiga terdapat urin seperti warna teh. Keadaan ini umumnya sembuh secara spontan walaupun gejala-gejala tadi muncul. Komplikasi lainnya yang jarang terjadi adalah infeksi tulang (osteomielitis), radang paru-paru (pneumonia), selulitis, psoriasis, Staphylococcal scalded skin syndrome, radang pembuluh limfe atau kelenjar getah bening.
 
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Impetigo
http://perawat.web.id/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-impetigo.html
Novia kartiningrum, bagian kulit dan kelamin,  RSUD Salatiga :
-   Baddaur, L., 2007. Impetigo, folliculitis, furunculosis, and carbuncles. Diakses dari www.uptodate.com
-   Djuanda, A., 2002. Pyoderma dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 4. Penerbit FKUI : Jakarta.
-  Marwali H., 2000. Impetigo Bulosa dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 1st edition. Penerbit  Hipokrates :    Jakarta.
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar