Jumat, 07 Januari 2011

Payah Jantung dan Koroner


Mudah Lelah Tanda Jantung Payah


shutterstock

KOMPAS.com - Sering merasa cepat lelah meski hanya melakukan kerja ringan? Waspadalah, bisa jadi itu gejala payah jantung (heart failure) atau yang umum disebut Iemah jantung. Ini terjadi kala jantung gagal menjalankan tugas utamanya, memompa darah ke seluruh tubuh.

Agus (41) merasa ada yang aneh pada dirinya. Beberapa bulan lalu ia masih sanggup naik tangga tiga lantai menuju ruang kerjanya. Kini ia harus berhenti di tiap lantai untuk beristirahat. "Nggak tahu, sekarang saya kok cepat ngos-ngosan. Tiap satu lantai saya berhenti untuk ambil napas," ucap ayah empat anĂ¡k ini.

Seorang teman menduga jantungnya lemah. Penasaran, Agus periksa ke dokter. Hasilnya, benar ada kecenderungan payah jantung. Apalagi ia mengidap hipertensi. "Kata dokter, hipertensi telah merembet ke fungsi jantung. Saya tak boleh bekerja berat," ujarnya.

Hipertensi ikut andil
Penyakit payah jantung atau lemah jantung banyak diderita oleh kalangan lansia. Ini dikarenakan fungsi jantung yang memang menurun dimakan usia. Namun, payah jantung juga bisa menimpa orang usia produktif.

Dijelaskan Dr. Santoso Karo Karo, Sp.JP, MPH, ahli jantung dari Perkumpulan Dokter Kardiovaskular Indonesia (Perki), payah jantung merupakan kondisi jantung tak kuat lagi memompa darah yang dibutuhkan tubuh.

"Tugas utama jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh dan menampungnya kembali setelah dibersihkan di paru-paru. Jika fungsi ini terganggu dan tubuh kekurangan asupan darah, timbul berbagai gejala. Yang paling sering ditemui adalah mudah lelah," ungkapnya.

Istilah payah jantung ini dalam masyarakat lebih dikenal dengan sebutan lemah jantung. Menurut Dr. Santoso, "Yang benar payah jantung atau heart failure, bukan lemah jantung!"

Kemampuan jantung melaksanakan tugas secara alami berangsurangsur menurun seiring bertambahnya usia. Penurunan semakin mencolok jika ada kondisi lain yang memengaruhi, misalnya infeksi pada otot jantung (miokarditis).

Bisa juga karena serangan jantung koroner yang merusak otot jantung. Hipertensi yang parch turut serta membuat massa otot jantung membesar, sehingga detaknya tidak normal, atau karena gangguan fungsi katup jantung.

"Masih banyak faktor yang menyebabkan payah jantung. Biasanya payah jantung diderita setelah seseorang sakit atau ada kondisi tertentu yang merusak organ jantung. Jadi tidak perlu heran, pengidap hipertensi yang masih muda bisa terkena payah jantung. Saat ini hipertensi banyak menyerang kaum muda," ucapnya.

Sesak napas
Gejala awal payah jantung adalah mudah lelah, sering batuk hingga sesak napas berat, dan detak jantung lebih kencang. Kalau sudah begitu, aktivitas harian pun bisa terganggu. "Seperti kasus Agus, awalnya ia tidak masalah naik tangga tiga lantai. Lama-lama ia merasa cepat lelah," imbuh Dr. Santoso.

Para ahli jantung di New York Heart Association menetapkan empat tingkatan gejala lelah dan sesak napas akibat payah jantung. Pertama, pasien merasa sesak napas jika melakukan aktivitas berat.

Kedua, pekerjaan sehari-hari tidak dapat dilakukan dengan baik karena mullah lelah sampai sesak napas. Ketiga, aktivitas ringan dalam rumah pun bisa membuat sesak napas. Keempat, dalam keadaan istirahat pun pasien bisa mengalami sesak napas.

Dari tingkatan tersebut, bisa terbayang kegiatan apa yang-boleh dan tidak boleh dilakukan pasien. "Jika masih tahap awal, olahraga mungkin tidak terlalu masalah. Kalaupun mau, pilih jenis olahraga yang tidak banyak menghabiskan tenaga, misalnya jolting atau jalan sehat. Tapi, jika sudah tahap keempat, sepertinya sulit bagi pasien untuk beraktivitas," paparnya.

Tak bisa diperbaiki
Pengobatan payah jantung hanya bertujuan mencegah kerusakan lebih lanjut. "Jadi pengobatan tidak untuk memperbaiki otot jantung yang rusak. Karena otot tersebut sudah sulit diperbaiki dengan terapi obat," ujarnya.

Pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab. Jika payah jantung karena hipertensi, hipertensinya harus ditangani terlebih dahulu. "Obat pendukung untuk mengeluarkan cairan dari jantung atau mengurangi beban kerja jantung juga bisa diberikan," kata Dr. Santoso.

Cara mudah mencegah payah jantung, yakni berpola hidup sehat. "Hipertensi, serangan jantung koroner, dan lainnya yang merupakan pencetus payah jantung disebabkan pola hidup tidak baik. Cara mencegah yang paling efektif adalah pola hidup sehat: makan sehat, istirahat cukup, tidak stres, dan rajin olahraga," katanya. (GHS/Michael)



PAYAH JANTUNG BERBEDA DENGAN JANTUNG KORONER


Penyakit payah jantung dan penyakit jantung koroner tidak sama. Keluhan sesak napas untuk payah jantung sudah lama diderita terutama sehabis kerja berat, misalnya naik tangga. Keadaan jantung membengkak dan semakin menebalnya dinding jantung. Penyebab membengkaknya jantung karena tekanan darah tinggi yang dibiarkan untuk waktu yang lama. Bila penyebab membengkaknya jantung tidak dikoreksi, proses pembengkakan jantung akan berlangsung terus. Maka jantung semakin membengkak, otot jantung akan semakin melar, kerja jantung akan melemah dalam memompakan darah, berarti manifestasi sesak napas. Bila keadaan sesak napas makin memburuk, tidak melakukan kegiatan fisik apapun juga timbul sesak napas. Apabila pembengkakan jantung sudah mencapai tingkat maksimal dan jantung sudah tidak mampu lagi memompakan darah sebanyak yang tubuh butuhkan lagi, maka terjadilah keadaan payah jantung atau disebut juga gagal jantung.

Jantung yang sudah telanjur membengkak tak mungkin dikempiskan menjadi seperti sediakala lagi. Agar jangan lebih membengkakak lagi dilakukan dengan mengoreksi penyebabnya perlu ditunjang dengan obat penguat jantung. Oleh sebab itu sebelum pembengkakan mencapai titik maksimal, cegahlah pembengkakan sedini mungkin, agar pembengkakan tidak melampaui kemampuan kerja jantung.

Proses jantung menjadi bengkak dan berkembang menjadi payah jantung memerlukan waktu puluhan tahun jika penyebabnya tidak dikoreksi. Orang muda dengan kasus darah tinggi yang tidak diobati, bisa menjadi kasus payah jantung sebelum usia pensiun.

JANTUNG KORONER

Tidak terjadi pembengkakan pada jantung. Adanya penyumbatan yang bersifat sebagian atau total pada pembuluh darah alit dinding jantung yang memasok makanan buat otot jantung yang disebut koroner. Jika pasokan makanan menurun atau terhenti sama sekali, maka terjadilah serangan jantung koroner.

Gejala jantung koroner :

  • Nyeri tertekan
  • Nyeri tertusuk
  • Nyeri tertindih di dada yang menjalar ke leher, pundak, sampai punggung dan lengan
  • Nyeri dada yang spesifik sering diawali dengan sesak napas
  • Jantung berdebar
  • Rasa mual bahkan muntah

Gejala diatas sering terjadi saat di meja makan, di kamar mandi, atau sewaktu melakukan hubungan seks (sering-sering bukan dengan pasangan).

Penderita jantung koroner bisa juga terjadi pembengkakan jantung dengan keluhan dan gejala yang lebih berat dari gejala yang tentu lebih berat dibanding dengan pengidap jantung koroner saja.

Penyumbatan pembuluh alit koroner umumnya sudah berlangsung sejak usia muda. Jika lemak / lipid darah dibiarkan tinggi sejak usia remaja, dalam sepuluh tahun separuh dari penampang pembuluh koroner jantung akan tersumbat. Biasanya pada tahap ini keluhan nyeri dada sudah mulai mungkin Cuma beberapa detik lalu menhilang sendiri. Dengan semakin menebalnya sumbatan koroner, nyeri dada lebih seringmuncul, durasinya semakin lebih panjang dari beberapa detik menjadi beberapa menit. Nyeri dada akan bertambah berat jika aktifitas fisik meningkat dan stress, karena kebutuhan O2 pada otot jantung lebih meningkat.

Bagi yang beresiko terserang jantung koroner, keluhan nyeri dada spesifik kian hari kian bertambah sering dan durasinya bertambah panjang, perlu diwaspadai, kemungkinan bertambah tebalnya sumbatan koroner menuju suatu titik, sehingga terjadi serangan jantung koroner dengan gejala nyeri dada yang spesifik yang durasinya bisa berlangsung sampai puluhan menit. Berat dan ringannya serangan jantung koroner tergantung pada cabang pembuluh koroner mana sumbatan terjadi dan berapa besar sumbatannya.

Kasus payah jantung dan jantung koroner perlu perawatan rumah sakit. Pasien dalam keadaan serangan jantung koroner dikejar oleh “waktu emas” agar kerusakan otot jantung tidak meluas memikul kurangnya pasokan O2 selama sumbatan terjadi.

Otot jantung yang mati lemas akibat kehabisan O2 akan menjadi rusak dan mati, tidak dapat pulih kembali, menyisakan cacat otot yang rusak dan mati sehingga tidak bisa berfungsi dengan normal kembali. Semakin sering serangan koroner terjadi, semakin meluas kematian otot jantung, sehingga pada titik terminal tertentu, jantung secara keseluruhan tidak bisa berfungsi normaldan memerlukan bantuan.

Risiko jantung koroner umumnya diwariskan melalui garis darah. Sebagian besar anak-anak dari salah satu orangtua yang memiliki risiko terkena koroner, mewarisi risikonya. Tinggal bagaimana anak-anak yang mewarisinya dapat menjinakkan risiko yang dibawanya, sehingga nasib terserang koroner bisa dipatahkan, antara lain dengan pola hidup sehat yaitu tidak gemuk, tidak merokok, darah tinggi dan kencing manis terkontrol, kolesterol darah dijaga tetap normal.

Apabila kondisi jantung sudah masuk ke dalam decompensatio cordis, artinya sewaktu-waktu serangan payah jantungnya akan datang berulang jika beban jantung tiba-tiba meningkat melebihi kemampuan toleransinya memikul beban tambahan. Untuk mencegah serangan payah jantungnya tidak gampang datang berulang, cara menjaganya dengan pola aktifitas fisik rutin tak boleh mendadak bertambah atau menjadi berubah. Hindari atau atasi stress dengan baik karena inila salah satu pukulan bagi jantung.

Sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/15/14181860/Mudah.Lelah.Tanda.Jantung.Payah
http://hs3s.multiply.com/journal/item/33/Beda_Payah_Jantung_Dan_Koroner

1 komentar: